Persiapan Paris : Pengalaman Apply Visa Schengen (Perancis) Pertama kali via TLSContact (Maret 2020)

Nah ini nih mungkin proses yang paling bikin deg degan sendiri dari seluruh tahap proses persiapan keberangkatan. Yakni proses pengurusan visa Schengen ! Awalnya gue gamau rempong ngurus visa sendirian, gue maunya pake agen perjalanan aja kayak Dwidaya Tour, dsb. Tetapi kemudian, ini semua berubah karena obrolan gue ama Bapak Deputi gue di kantor suatu sore di bulan Januari seperti ini :

Beliau : Jadi kapan, wa lo mau ajuin visa?
Gue : Yaa Maret lah pak. Biar jaga jaga kalo ditolak. Jadi bisa reapply lagi, walau tetep entar pake agen dwidaya tour sih
Beliau : Ha? Lo pake agen?
Gue : Lah iya. Biar ga ribet ah pak. 
Beliau : Lah apaan lu mau pake pake agen. Urus sendiri lah.
Gue : Lah, ya gapapa kali ah pake agen. Daripada ribet.
Beliau : Lah ga bisa gitu dong wa ! Lu kan orang pencegahan korupsi. Lo bekerja di bidang ini, masa lu ngurus ginian aja pake calo.
Gue : Laaah agen kan bukan calo kali paak, itu kan.....(langsung dipotong dong gue)
Beliau : Halah sama aja. Udah lu pokoknya urus visa sendiri aje, ga usah itu pake agen agen calo apalah itu.
Gue : ((dalem ati gue...dih kok jadi maksa wkwk))
Beliau : Udeh lu urus aja sendiri, Bu. Biar lu bisa tau juga prosesnya gimane, transparan apa kagak, ada 'biaya tambahan ga resmi' atau kagak, lu liat dah tu semua sebagai orang pencegahan
Gue : Iye dah iyee Pak. Gue urus sendiri visanya -__-
Dan akhirnya karena dipaksa beliau, deputi pencegahan, gue memutuskan untuk melakukan pengurusan visa sendiri, tanpa pake agen perjalanan.
Gue sih gak akan menuliskan detail mengenai dokumen persyaratan dan detail, karena semuanya bisa lo cari sendiri di tulisan blogs bahkan YOUTUBE ! LOL. Tetapi gue akan menuliskan secara penting apa saja yang menjadi kekhawatiran gue ketika mengajukan visa schengen pertama gue dan tentu saja tanpa agen.
----- Tahap I : Persiapan dokumen --------
1. List Dokumen Visa 

Biar lebih rapih, gue beneran mengurutkan dokumen berkas sesuai nomor. Tak lupa gue berikan juga sticky note kecil yang menandai nomor mereka. Ini pilihan sih, gue juga terinspirasi gegara baca blogs orang. Kayak gini nih penampakannya :


Nah untuk bagian ini, gue akan rangkum dalam sebuah tabel mengenai dokumen apa saja yang gue serahkan selama proses visa. BTW daftar ini, bukan gue loh yang bikin. Tapi daftar dokumen ini gue dapatkan setelah gue mendaftar di website TLS, mereka akan memberikan informasi dokumen secara runut untuk keperluan visa. Berikut adalah rincian dokumennya :


Nah yang gue ceklis itu artinya gue sediakan. Sedangkan yang gue coret artinya gue ga perlu kumpulkan, karena hanya ditujukan kepada pelamar dengan kondisi tertentu yakni pada dokumen nomor 13,14,15,16,17,18,23,24,25,26,27,28,29.30,31,32,33,34.(contoh masih anak-anak, atau udah pensiunan, dsb). 


2. Beli Tiket Pesawat dulu atau entar?
Seperti yang gue balas di postingan sebelumnya. Gue memegang mahzab pesan tiket pesawat dulu. Jadi pas gue apply visa schengen ini, gue gak pake tiket dummy sama sekali yaaa. Gue gatau apakah tiket dummy akan mempengaruhi keputusan visa lo di approve atau enggak oleh Kedutaan.

3. Harus translate dokumen seperti kartu keluarga/ktp kah untuk visa?
Kalau gue, iya gue translate semuanya itu KTP, Kartu Keluarga, Akta Lahir gue dan Slip gaji gue. Gatau kenapa, kemarin gue mikir, gue kayaknya bakal membutuhkan translate dokumen ini di masa yang akan datang (entah itu untuk keperluan S2 atau keperluan lainnya). Intinya gue akhirnya memutuskan untuk mentranslate dokumen, karena kantor gue juga gak bisa menyedian Slip gaji bulanan dalam bahasa inggris. Jadi akhirnya gue memutuskan untuk translate sekalian. Dan yaap, dokumen hasil terjemahan gue ini diambil kok ama mbak-mbak penjaga visanya kemarin. Intinya dokumen terjemahan Kartu Keluarga gue diambil oleh Mbaknya (walo gue tetep ga bisa jawab yaa apakah wajib menerjemahkan dokumen ini untuk keperluan visa schengen).

Tapi menurut gue pribadi, harga translate murah kok. Gue googling jasa penerjemah di Jakarta, gue cari yang paling banyak ulasan, dan tadaa, pilihan gue jatuh kepada : CV Solusindo Karya Nusa. Alasannya apa? Karena ulasannya sudah 124 buah dan nilainya 4.8 which is pretty good then why not?


Caranya juga cukup mudah.
Gue tinggal scan dokumen yang ingin diterjemahkan, lalu email ke mereka. Nanti mereka balas email gue berisi total harga dari jumlah dokumen. Harganya? Cuma 90ribu/lembar !

Artinya total yang harus gue bayarkan Rp 540.000 untuk translate dokumen KTP, KK, Akte Lahir dan 3 lembar slip gaji (3 bulan gue). Setelah bayar DP 50%, mereka akan mengirimkan hasil terjemahan dalam bentuk soft copy ke email kita. Nanti jika kita sepakat dan merasa oke dengan hasil soft copy, baru kita bayar lunas 50% sisanya dan dikirim via gojek ke kantor.

Gampang dan murah banget.
Hasil terjemahannya juga terjamin dan dicap oleh penerjemah tersumpah kok. Jadi gue baca, kalau bukti dia sebagai penerjemah tersumpah adalah dia memiliki izin yang diterbitkan oleh gubenur setempat dalam konteks ini adalah gubernur DKI. Nah jadi semua dokumen , pada bagian bawah akan di cap dan ditanda tangani oleh si penerjemah. Untuk yang mau pake jasa ini, gue rekomendasi banget sih. Terhitung gue mulai kirim dokumen gue pada Rabu 5 Februari 2020,  jam 13.20. Lalu dokumen terjemahan gue terima kembali pada hari Jumat, 07 Februari, jam 15.05.

Mayan banget sih harga murah dan pengerjaannya lumayan cepat, praktis dan rapih. Bisa kontak via nomor whats app nya dulu kalau mau tanya tanya jasa nya.

4. Apakah wajib membawa dokumen asli kartu keluarga? 
Iya, ini gue bawa dokumen asli Kartu keluarga. Walaupun ketika gue menyerahkan ke mbak-mbak visa nya, dia bilang sebenernya gak perlu ampe bawa yang asli wkwkwk.

5. Beli asuransi perjalanan untuk visa schengen yang mana ?
Gue beli asuransi AXA. Kenapa AXA? Gak ada alasan khusus sih, cuma karena rerata bloggers nulis seringnya pake AXA dan AXA ini super praktis tinggal beli online, terus nanti di kirim via email bukti dokumennya. Nah ketika apply visa, HARUS PRINT SELURUH DOKUMEN EMAIL ASURANSI wkwk. Ini jangan ampe pelit kertas yaa ! Dokumen asuransi yang diemail gue terdiri dari 1 buah pdf yang berisi 10 lembar, jadi harus semuanya di print. Dan gue kemarin kena Harganya 678ribu sih untuk kover perjalanan gue selama 12 hari disana. Oh ya, yang perlu dicermati ketika membeli asuransi visa schengen adalah gak boleh pesen paket yang spesifik nama negara tujuan. Contoh asuransi untuk Perancis doang.
Nah itu salah dan kemungkinan besar bisa menjadi alasan visa ditolak. Soalnya ini terjadi tepat di depan mata gue, ketika gue lagi antri masuk visa dan screening awal. Ada satu keluarga ( Bapak ibu dan 2 orang anak) yang disuruh ganti asuransi, karena asuransi mereka menuliskan tujuan/area kover asuransi perancis doang. Yang benar katanya harus tujuan tulisan : Schengen Countries ataupun WorldWide.
Contohnya gini nih kalo di asuransi AXA, destination/area of cover nya tertulis Worldwide :

6. Valid kah menggunakan receipt dari Airbnb untuk syarat visa?
Valid kok. Buktinya visa gue di granted dengan cara melampirkan dua dokumen dari receipt Airbnb gue. Ada dua buah dokumen yang gue lampirkan (seperti di postingan sebelumnya tentang pengalaman pesan airbnb) yakni : Dokumen Payment Receipt dan Dokumen Reservation Details. Berikut isi dua dokumen tersebut :

7. Tabungan kudu berapa juta?
Yaa straight to the point aja ya.
Yes tabungan gue ketika apply visa yang gue cetak rekening untuk dokumen persyaratan adalah lebih dari Rp 50 juta (spesifik saldonya tebak ga usah yaa :) ). Tak lupa gue juga mencantumkan Surat Keterangan Bank dari BNI tempat gue menabung. Dan harga bikin surat nya mahal banget masaa, kemarin gue kudu bayar Rp 200ribu ke BNI demi dapat surat ini doang huhu.

Daan gue gatau ya apakah jumlah tabungan ini mempengaruhi keputusan pemberian visa schengen.
8. Slip gaji butuh kah? Slip gaji perlu ditranslate kah?
Kalau di Kedutaan Perancis, perlu melampirkan slip gaji 3 bulan terakhir. Ketika gue apply di tanggal 2 Maret, ya gue melampirkan slip gaji gue yang bulan Desember 2019, Januari 2020 dan Februari 2020. Memang sih kantor gue ga bisa provide slip gaji gue dalam bahasa inggris, oleh karena itu gue memakai jasa penerjemah slip gaji daan contoh dokumen slip gaji yang telah diterjemah sudah gue lampirkan di poin nomor dua yak.
Dan sekali lagi, gue gatau ya apakah jumlah gaji bulanan elu, atau harus perlu apa engga melampirkan slip gaji, atau harus diterjemahin apa engga slip gaji ini akan mempengaruhi keputusan pemberian visa schengen. Tapi intinya, gue kemarin melampirkan slip gaji gue 3 bulan terakhir, dan juga gue terjemahin, dan yaak visa gue di granted.

9. Apakah perlu melampirkan dokumen Itinerary?
Gatau deh, tapi kemarin ketika apply visa gue ga mencantumkan dokumen rinci perjalanan (Itinerary) gue sama sekali. Entah itu karena gue merasa gak perlu karena toh gue juga cuma keliling keliling kota Paris selama 10 hari dan juga ditambah tak ada tulisan dokumen itineary yang tertulis pada daftar dokumen oleh TLS (lihat nomor 1). Jad yaa gue kemarin tidak menyusun apalagi melampirkan dokumen itinerary gue sama sekali sih. 
Tapi yaa sekali lagi, karena pada kasus gue adalah kasus spesial, yakni gue ga pindah ke beberapa negara alias cuma stay di Paris selama 10 hari.


-Tahap II : Proses Janji Temu Visa-
1. Daftar di website TLS dan Pilih Tanggal
Setelah semua dokumen di poin nomor satu telah terkumpul. Selanjutnya adalah membuat akun baru di website tls dan kemudian memilih tanggal untuk temu janji visa. Setelah berhasil membuat akun dan memilih tanggal, akan ada email masuk yang menyatakan bahwa kita telah berhasil membuat janji temu pada tanggal pilihan kita seperti ini :



 Kalau saran gue sih, lebih baik sepagi mungkin, daan jangan datang kecepetan atau kelamaan. Kemarin kan gue pilih jam Senin pukul 08.30 tuh, nah gue sampe di kantor TLS ketika pukul 08.00.
Eh gak boleh sama sekali, kecuali udah jam 08.30 teng dan itu juga nunggu panggilan satpam yang memperbolehkan kita masuk.
Kebayang kan lo kalo datengnya sok ide 1-2 jam sebelum? Wkwkwk jangan deh, bisa mati gaya. Pake baju batik rapih atau kemeja rapih aja. Dan jangan pake sendal aja lah intinya yak.


2. Hari-H janji Temu  
Cuma dengan naik gojek, 15 menit gue sampe di kantor TLS yang berada di kawasan Mega Kuningan, alias sebelahan banget ama kedutaan Thailand. Kurang lebih begini sih tahapan ketika gue masuk ke gedung menara anugerah :

Pertama, Tukar kartu identitas di Lobby Gedung Menara Anugrah
Yaa seperti gendung perkantoran Jakarta biasa, gue udah tau bahwa ada prosedur untuk menukarkan id card sebagai jaminan kita sebagai visitor. Jadi pas awal masuk, gue harus menukarkan kartu SIM C gue ke satpam biar dituker ama kartu masuk ke gedung tersebut sekalian nanya kalau urusan visa schengen TLS di lantai berapa. Abis itu gue diarahkan untuk lanjut masuk ke lift menuju lantai 3. 


Kedua, Panggilan masuk oleh Satpam TLSContact
Sampai di Lantai 3 di depan loket, dijelaskan kita ga boleh masuk, kecuali dipanggil oleh Satpam. Nah panggilannya hanya akan berupa teriakan jadwal temu. Contoh ketika sesi gue udah mau mulai, Satpam akan mulai manggil-manggil tuh "Yaa yang jam 08.30, jam 08.30 Silahkan masuk." Jadi saran gue, jangan terlalu inisiatif terlalu kecepatan juga tiba sebelum janji temu. Bisa bosen sendiri kalau kecepatan 1-2 jam, wkwk.

Ketiga, penukaran lembar bukti janji temu dan deposit hp
Nah setelah dipanggil satpam, kita harus deposit handphone kita dan menunjukan bukti print kepada satpam bahwa kita sudah membuat janji temu visa melalui webiste TLS (ini dokumen yang bisa diunduh di website TLScontact). Di antrian sebelum gue, ada ibu ibu yang diarahkan untuk menuju lantai 2, karena dia adalah perwakilan (bukan pemohon visa aslinya).
Jadi mungkin dibedakan kali ya lantai proses untuk memohon visa sendiri dan pake perwakilan. 
Ketika kita mendeposit HP, kita akan diberikan sebuah kartu nomor loker. Ini disimpen terus sampe selesai keluar buat dituker lagi ama HP kita, jadi jan ampe ilang.

Keempat, Screening awal dokumen oleh penjaga depan visa 
Setelah deposit HP, gue boleh bawa tas berisi berkas gue. Nah ternyata, sebelum beneran masuk. Kita dicek berkas secara cepat oleh penjaga gerbang (?), bingung juga sih gue mendeskripsikannya wkwk. intinya kayak cek pas kita mau cek in pesawat, ada meja berdiri gitu. Mbak-mbaknya cuma ada 2 biji, jadi antriannya di split jadi 2. Nah mbak mbak berdiri ini, akan ngecek dokumen secara cepat aja sih, mungkin screeningan awal dan kalau sudah benar, mereka akan lanjutkan dengan meng-scan . Awalnya gue cincai aja elah, cuma screening dan filter kasar.
Eh gataunya dong......

Meja pengecekan satu lagi, seberang gue, ada 1 keluarga (bapak ibu dan 2 anak) yang ga boleh lanjut masuk ke dalam. Karena tujuan asuransi visanya terlalu detail (mencantumkan nama negara doang) dan juga dia terlalu lama di Swiss dibandingkan di Paris, jadi lebih disarankan buat apply di Swiss aja. 

NAH LOOOH, PARNO KAN AZZAHWAA wkwkwkwk.
Tapi untungnya, pas mbak mbak berdirinya ini scan berkas gue, gue lolos doang dan barcode gue di scan ama doski, yang berarti gue lanjut.
Naah sebelum dilanjutkan, Mbak-mbak berdirinya (duh apa ya sebutannya enaknya wkwk), nawarin kita sebagai pengguna jasa, apakah mau upgrade jadi layanan jasa premium atau reguler, terus dia akan jelasin panjang lebar keuntungan premium apa saja dsb dsb. Duuh gue bayar visa normal seharga Rp 1.6 juta udah ga ikhlas, apalagi kudu premium wkwk. So I shortly and politely said no to her. Daan lanjut masuk ke dalam.

Kelima, Menunggu hingga panggilan
Jadi Mbak-mbak berdiri tadi menjelaskan, bahwa nomor kode gue akan muncul di layar antrian dan dilayar tersebut juga akan tertera gue akan diantarkan ke meja berapa untuk proses berkas. Gak sampai 5 menit, nomor kode gue langsung muncul dan diarahkan ke meja nomor 09. 

Gue gatau sih memang lagi sepi karena virus Corona atau memang antriannya biasa secepat ini, tapi gue salut sih untuk meja pemrosesan berkas visa terdiri dari 5-10 meja yang semuanya aktif. Jadi memang gak heran kalo cuma butuh 5 menit menunggu.

Keenam, Pemeriksaan dan Pengumpulan berkas oleh Petugas
Nah ini diaa, the main course !
Berkas yang tadi sudah gue susun rapi, kemudian di cek satu per satu oleh si Mbaknya. Dan gak ada sesi wawancara khusus sih. Paling sembari ngecek berkas gue, jatuhnya gue yaa kayak ngobrol biasa aja ama mbak petugasnya. Kayak ditanya "Loh ini kenapa berangkat dari Malaysia?" yaa gue jawab aja lebih mureh wkwk. Terus juga ditanya "Bukti pemesanan hotel malaysia nya kok gak ada?" yaa gue jelasin aja, itu gue sampe bandara KUL pukul 08.40 dan pesawat gue dari KUL-CDG adalah 14.00, jadi ga bakal nginep di Malaysia. Terus gue juga ditanya "Kenapa cuma kunjungan Perancis doang, ga negara lain" dsb dsb gitu deh.

Lumayan sih prosesnya, 30 menit buat cek berkas dan sekalian liat mbaknya input data data gue ke komputer dia walau entah data apa itu gue ga ngerti wkwk.


Ketujuh, Proses Pembayaran di Kasir
Thank to God, ternyata gue gak ada dokumen yang salah sehingga ga perlu balik lagi buat kirim perbaikan. Jadi gue dijelaskan bisa langsung lanjutkan ke proses pembayaran di kasir. Kasir ini berada di lorong sebelah. Kita gak perlu menyerahkan apapun ke kasir sebelum nya, hanya perlu duduk cantik bersabar hingga nomor urutan kita dipanggil oleh petugas kasir/tertera di layar.

Naah gatau kenapa, proses nunggu pembayaran kasir ini menurut gue lumayan lama, bisa sekitar 30-45 menit apa ya gue cuma buat nungguin  kapan nomor gue dipanggil oleh petugas kasir (?). Kelemahannya kenapa antrian kasir lama : KONTER KASIR CUMA SATU WKWKWK. Jadi harap maklum dan sabar ye.

Gue saranin yang mau apply visa, bawa buku bacaan aja, entah itu novel kek, majalah kek, buku soal latihan IELTS kek. Yaa Lumayan males kan kalo ngantri proses visa, terus mana HP disita lagi. 

Tapi ketika proses pembayaran berlangsung, sangat cepat sih. Gue emang udah siapin duit sekitar 2 juta rupiah. Jadi ketika ditagihkan, gue harus bayar untuk proses visa seluruhnya adalah Rp 1.600juta (ini harga visa schengen per 2 Maret 2020 yaa). Pas gue tanya ke petugas kasir, ternyata bisa loh pembayaran pake kartu kredit ataupun debit (gue bahkan nanya kalo kredit BCA bisa apa engga), ternyata bisa tapi kena extra charge sebesar Rp 23.000-Rp 30.000 gitu buat biaya administrasi bank nya.

Jadi buat yang gamau rebek bawa cash banyak apalagi kalo perginya ampe berempat, bisa pake gesek yaak.


Kedelepan, Proses Pengambilan data Biometrik
NAH INI NIH PROSES YANG PALING BIKIN W KESEL :(
Entar gue jelasin kenapa gue kesel, walo ga penting sih wkwkwkwk.
Jadi setelah gue sukses melakukan pembayaran visa gue secara cash. Gue diberikan sebuah lembar yang bertindak sebagai dokumen bukti bahwa gue udah apply visa dan udah lunas, dan dokumen ini harus gue bawa sebagai dokumen tukar ketika gue ambil paspor gue lagi. begitu deh kira kira penjelasan petugas kasirnya.

Nah lanjut ke proses biometrik.
Again, antriannya cepet banget, gak sampe 3 menit setelah gue selesai melakukan pembayaran dikasir, nomor urut gue dipanggil untuk melanjutkan proses biometrik.
Nah proses biometrik ini terdiri dari 1-4 bilik gitu deh, jadi makanya bisa cepet antriannya.

Ketika masuk bilik, nanti tirai ditutup dan ada petugas yang berwenang untuk mengambil data sidik jari dan juga foto kita. Jadi, fasilitas bilik bertirai ini juga bisa dimanfaatin oleh kalian yang mau ajuin visa tapi belum bikin pas foto. Setau gue harga jasa bikin foto visa di TLSContact ini Rp 75.000. Gue sendiri udah bikin paspoto khusus visa di studio setiabudi deket kostan, harganya cuma Rp 50.000 dan hasilnya cakeep sekali. Iya dong cakep, soalnya itu gue sengaja bikin foto hari Sabtu sebelum gue pergi ke kondangan nikahan temen kantor gue :)), kan mayan udah dandan, pake kebaya cantik, terus bisa gue jadiin foto nya di lembar visa schengen perdana gue entar kaan. Btw ini nih pasfoto cantik hasil studio di deket kostan gue (btw yang mau foto visa di sekitar setiabudi ini nih nama studionya : Abrazo Foto Studio).
Cakep kan gue, udah cocok kan stylenya ke Paris, cewe muslim stylish yang ala ala pake turban wkwk.


Jadi yaa ketika gue melakukan proses foto buat data biometrik gue, gue mikir ngapain gue pose cakep cakep, kan gue udah ada pas foto yang cakep kebayaan itu buat dicetak di visa gue. Jadilaah gue ketika proses biometrik, asal foto aja ama mbaknya dan dengan mata super melotot, bibir manyun, dsb dsb dsb. Gue mikir yoda sih asal wajah gue terlihat jelas, natural dan ideal lah intinya untuk keperluan data kedutaan wkwk. (salah satu ketotolan yang gue akan sesali di poin berikutnya).

Nah proses biometrik ini sendiri cuma memakan waktu 5-15 menit sih, untuk proses foto dan sidik jari kita.

Oh ya, sebelum keluar dari proses ini. PASTIKAN KALAU ELU SUDAH MENERIMA sebuah lembar yang berjudul 'APPLICATION CHECKLIST'. Dokumen yang terdiri dari 2 lembar ini sebenarnya berisi tentang keterangan kalau elu sudah menyerahkan berkas-berkas syarat visa, lalu juga berisi keterangan kalau lo udah  lunas melakukan pembayaran dan juga berisi ketentuan ketentuan lainnya dari Kedubes yang lo setujui (contoh kalo ternyata visa lo ditolak, duit lo ga bisa lagi kembali, dan ketentuan ketentuan jahat lainnya wkwk).

Intinya pastika kalau lo sudah menerima dan memegang dengan baik dokumen Application Checklist ini.


 Terakhir, Keluar dari bilik, Ambil deposit HP
Setelah semua selesai, kita sudah boleh pulang. ! Jangan lupa tuker HP dengan kartu nomor deposite tadi. Nah gue kan izin dari kantor jam 08.00 buat ke TLSContact urusan visa dan gue kembali lagi duduk manis dikantor dan kembali bekerja memberantas korupsi pada pukul 09.45. Cukup cepet sih menurut gue prosesnya, gatau deh apa karena emang lagi sepi atau normalnya memang secepat itu prosesnya.

Ketika gue dikantor, ada email pemberitahuan masuk dari TLSContact yang menyatakan bahwa berkas gue telah diterima dan akan mereka proses, kurang lebih emailnya seperti ini :





-Tahap III : Proses Pengambilan Paspor-

1.Notifikasi pada website TLS
Pada Selasa, 10 Maret 2020 sekitar pukul 10.45 WIB, barulah ada perubahan status yang di website TLSContact yang menyatakan bahwa visa gue sudah selesai dan paspor gue bisa diambil kembali di TLSContact. Kurang lebih tampilannya seperti ini :



Artinya dari hari Senin 02 Maret 09.30 gue drop berkas aplikasi gue, hingga kemudian Selasa 10 Maret 10.30 hari pengambilan kembali paspor gue. Dibutuhkan sekitar kurang lebih 1 minggu lah ya artinya dalam proses penerbitan visa schengen gue ini. Gue gatau deh apa gue nya zonk atau karena lagi corona atau emang bulsyit itu slogan Kedubes Perancis nerbitin visa 3 hari doang wkwk.

Gak mau penasaran ama hasilnya, apakah visa schengen perdana gue ini ditolak apa digranted ama Kedutaan, pas abis jam makan siang (sekitar 13.00) gue langsung meluncur ke Gedung Menara Anugrah buat ambil paspor gue. 


2. Jangan lupa bawa Dokumen Syarat Pengambilan Paspor

Karena gue mengambil sendiri paspor gue, gak pake perwakilan, gue cukup membawa 3 dokumen :
1. Lembar Application Checklist (yang gue dapet pas selesai ajuin visa pada tanggal 02 Maret lalu)
2. KTP Asli
3. Fotokop KTP 

3. Masuk ke Gedung Anugrah, Gak perlu naik Lift, langsung menuju loket pengambilan passport

Nah berbeda dengan proses pengajuan pada Senin (02 Maret) lalu, ketika gue mengambil paspor, gue dikasih tau Satpamnya kalau gue gak perlu naik lift kayak sebelumnya. Hal ini dikarenakan lantai untuk pengambilan pasport berada 1 lantai yang sama dengan lobby. Karena 1 lantai dengan Lobby, otomatis gue gak perlu pake acara alay nuker nuker ID Card gue dengan Card Visitor.

Nah jadi pas masuk gedung Menara Anugrah, gue langsung masuk lobby menuju loket pengambilan passport. Ngantri gak? Gak pake antri, karena cepet dan juga petugasnya banyak dan mereka toh cuma ambil paspor kita di loker loker yang sudah diurutkan berdasarkan abjad.

4. Here it comes, My First Schengen Visa !
Dan tadaa, ketika paspor lo sudah diambil, petugas akan memberikan sebuah amplop tersegel rapi yang berisi paspor lo dan paspor lama lo. 

Di atas amplop tertulis jelas bahwa TLSContact gak ada urusan ama keputusan apakah visa lo ditolak/diterima ama Kedubes. Jadi kalo lo mau marah marah ama TLS, ya artinya ga guna, gitu aja sih wkwk.

Kurang lebih penampakan depan dan penampakan belakang amplopnya begindang ya pemirsah :


Dan ketika gue buka, alhamdulillah, visa gue digranted oleh Kedubes Perancis tanpa ada syarat atau embel embel lainnya. Dan seperti visa schengen turis normalnya, durasi expired visa gue adalah 6 bulan dan durasi visit 90 hari dengan jenis multri enter. Yeay, tapii....WTF KOK FOTO VISA NYA BUKAN PASFOTO GUE YANG CAKEP ITU YA?????

wkwkwk gue keseel banget, ternyata foto visa gue adalah foto pas pengambilan data biometrik. Jelek bangeet kan jadinya :(( pen marah tapi ga bisa, soalnya lagi bahagia visanya digranted dan soalnya gatau juga mau marah nya ama siapa akutu :((



Yowes aku sing ikhlas, gusti :((
Btw itulah proses pengurusan visa schengen perdana gue. Dan yaa, gue harus mengucapkan terima kasih juga sih ke atasan gue dikantor, yang telah maksa gue buat ngurus visa sendiri. Ternyata caranya gampaang  banget, asal lo patuh dan ga aneh aneh dokumen berkas aja sih menurut gue yaa.

Buat para pembaca yang ada pertanyaan terkait visa, monggo silahkan ditanyakan ke gue. Gue akan berusaha jawab sebisa mungkin berdasarkan pengalaman guee :))

Daan btw, H-2 bulan keberangkatan gue, gue masih gatau gue bakal tetep jadi berangkat ke Paris apa engga melihat kondisi Corona gini wkwk. Btw, Perancis sendiri udah resmi mengambil kebijakan lockdown dari hari ini (17 Maret) hingga 2 minggu ke depan, yakni Awal April.
Yaa trip gue masih akhir Mei sih huhu, tapi ya gue serahkan dan pasrahkan semuanya ke Allah, amiin.


Komentar

Postingan Populer